Manchester United akhirnya tersingkir dari Liga Champions musim
2012/2013. Dua gol yang dicetak Luka Modric dan Cristiano Ronaldo
mengubur impian United. Skema rancangan Alex Ferguson berjalan dengan
sangat baik sampai menit ke-56 saat Nani menerima kartu merah akibat
insidennya dengan Arvalo Arbeloa.
Sejak itulah arah permainan
beralih ke tangan Real Madrid. Dominasi penguasaan bola Madrid yang
sebelumnya tak banyak menghasilkan peluang, pelan tapi pasti mulai
menghadirkan ancaman. Sampai akhirnya terciptalah 2 gol yang dicetak
Modric dan Ronaldo.
Kendati bermain 10 orang, menariknya United
tetap memberikan ancaman yang bukan main-main bagi Madrid. Agregat dua
gol yang harus dikejar United bukan hal yang mustahil jika saja Diego
Lopez tak bermain cemerlang. Setidaknya ada tiga peluang emas United
digagalkan Lopez.
Apa yang membuat United terlihat berbahaya
selama 56 menit walau penguasaan bola didominasi Madrid? Kenapa United
secara kontinyu tetap berbahaya walau sudah bermain 10 orang? Dan,
akhirnya, apa yang membuat Madrid unggul 2-1?
4-2-3-1 vs 4-2-3-1Kedua
tim turun dengan formasi dasar 4-2-3-1. United sebenarnya menurunkan
dua pemain dengan posisi natural sebagai striker, Van Persie dan
Welbeck, tapi Welbeck praktiknya bermain lebih ke dalam, berdiri di lini
kedua. Sementara Madrid hanya menurunkan Gonzalo Higuain sebagai ujung
tombak tunggal.
Higuain adalah satu-satunya perubahan yang
dilakukan Mourinho. Dia diturunkan menggantikan Benzema yang "mati kutu"
di laga pertama. 10 pemain sisanya adalah mereka yang juga turun
sebagai
starter di laga pertama yang berakhir imbang 1-1. Dalam
situasi tertinggal agregat gol dalam mencetak gol di kandang lawan,
Mourinho memang tak punya pilihan untuk mempertajam lini serangnya.
Higuain diharapkan bisa memenuhi harapan itu.
Sementara Alex
Ferguson membuat empat perubahan. Cederanya Phil Jones, yang di laga
pertama cukup bagus menjaga Ronaldo, digantikan Tom Cleverley. Johny
Evans yang juga bermain baik di laga pertama digantikan posisinya oleh
sang kapten, Nemanja Vidic. Sementara Kagawa [yang bermain cemerlang
lewat
hattrick-nya ke gawang Norwich di akhir pekan] dan Rooney
[yang tidak pernah absen di laga-laga penting dalam 5 tahun terakhir
jika tidak cedera] secara mengejutkan dicadangkan dan digantikan oleh
Nani dan Ryan Giggs.
Giggs Sebagai Defensive-WingerGiggs
secara mengejutkan lebih dipilih ketimbang Rooney untuk mengisi sisi
kanan di depan Rafael da Silva. Sisi kanan ini memang menjadi perhatian
tim mana pun yang menghadapi Madrid. Keberadaan Ronaldo di sana memaksa
lawan untuk memberi perhatian ekstra. Di laga pertama, Rooney ditugaskan
untuk melapisi Rafael yang sudah pasti akan bertarung dengan Ronaldo
yang dibantu oleh Coentrao. Rooney bermain tak maksimal. Setidaknya dia
bertanggungjawab atas dua peluang emas yang didapat Coentrao di
leg I.
Maka
Giggs pun didapuk menggantikan Rooney. Ini pilihan yang mengejutkan.
Biasanya, jika Ferguson memerlukan pemain sayap yang punya kemampuan
bertahan, pilihannya jatuh pada Valencia. Hasilnya tidak mengecewakan.
Giggs, yang dulunya adalah mentor Ronaldo, dengan sangat baik memerankan
diri sebagai
defensive-winger. Situs
whoscored menyebut Giggs sebagai pemain terbaik di babak pertama secara statistik.
Sepanjang babak I, setidaknya dia membuat 8 kali
defensive action
guna merebut bola dari penguasaan lawan. Dia berhasil memastikan
Coentrao tak maksimal mendukung Ronaldo. Di luar gol yang dicetaknya,
Ronaldo praktis tak berdaya. Sepanjang babak I, dia hanya membuat 3
percobaan mencetak gol, semuanya
off-target, 2 di antaranya dari luar kotak penalti.
Ketika menyerang, Giggs pun sangat terkendali gerakannya. Dia jarang memasuki final third Madrid. Saat memasuki
final third,
dia seringnya langsung melepas umpan. Di sinilah Rafael yang menyisir
sisi kiri pertahanan Madrid, saling bertukar posisi dengan Rafael.
Peran Suffaco oleh WelbeckJika di
leg
1 Welbeck bermain cemerlang di sisi kiri, kali ini Welbeck bermain di
tengah menggantikan Kagawa. Posisinya tepat di belakang Persie. Tugas
Welbeck bukan hanya membantu Persie dengan pergerakan-pergerakan dari
lini kedua. Dia juga diberi tugas untuk memberi tekanan pada Xabi
Alonso, pengatur serangan Madrid [
deep-lying midfielder].
Dan,
sekali lagi, Welbeck bermain sama bagusnya dengan leg 1 di posisi
barunya ini. Saat menyerang, dia bukan hanya rajin bergerak ke kiri
untuk berkolaborasi dengan Nani, tapi juga efektif menjadi penyerang
kedua. Gol bunuh diri Ramos juga berkat kemunculan Welbeck ke dalam
kotak penalti. Saat diserang, Welbeck segera kembali ke posisinya untuk
sebisa mungkin membatasi kenyamanan bermain Alonso.
Sam Tighe, penulis untuk situs
Bleacherreport, menyebut peran yang dimainkan Welbeck ini sebagai
"suffaco" atau
"advance destroyer". Posisinya di belakang seorang striker mirip dengan pemain no. 10 [
"regista"], tapi dia juga dibebani tugas untuk menjadi pemutus serangan lewat marking ketat pada pengatur serangan yang bermain sebagai
deep-lying.
Ferguson terkenal dengan eksperimennya dalam mematikan Andrea Pirlo di
perempat-final Liga Champions 2008 dengan menempatkan Ji-Sung Park di
belakang striker guna mengganggu kenyamanan bermain Pirlo.
Poros Ganda pada Cleverley-CarrickDi
leg
1, Phil Jones bahu membahu bersama Carrick melindungi barisan
pertahanan. Jones terutama ditugaskan untuk mencegah upaya Ronaldo yang
punya kecenderungan menusuk ke tengah [
cutting inside] guna mencari ruang tembak. Posisi Jones kali ini digantikan Cleverley.
Dengan
terisolasinya Ronaldo oleh kolaborasi Giggs-Rafael di kanan, maka
Cleverley bergerak cenderung ke kiri untuk menyaring serangan yang
berasal dari kolaborasi antara Angel di Maria dan Mesut Oezil. Pada
leg
1, di Maria secara konstan merusak pertahanan United dari sisi kiri
pertahanan United yang dijaga Evra. Taktik ini juga bisa dikatakan
berhasil. Sebelum akhirnya di Maria digantikan Kaka jelang turun minum,
serangan dari sisi kiri ini juga praktis relatif bisa dikendalikan oleh
United.
Keberhasilan United menetralisir kedua sayap Madrid ini
mengakibatkan Madrid mau tak mau menyerang dari tengah. Ini pun
terkendala akibat gangguan yang dberikan Welbeck pada Alonso. Praktis
tinggal Khedira yang menjadi harapan. Tak heran jika satu-satunya
peluang emas yang didapat Madrid di dalam kotak penalti United berasal
dari umpan panjang Khedira kepada Ronaldo di menit 28.
Nani Out, Modric In
Madrid
memang menguasai penguasaan bola, tapi kreasi peluang yang diciptakan
kedua tim seimbang, bahkan United terlihat lebih berbahaya. Titik balik
terjadi saat Nani, yang bermain bagus dan mengkreasi gol bunuh diri
Ramos, menerima kartu merah di menit 56. Unggul pemain jelas membuat
Madrid jadi lebih nyaman memainkan bola.
Tapi unggul jumlah
pemain saja bisa tak menghasilkan apa-apa jika tak dibarengi perubahan
taktik yang tepat. Di sini Mourinho "membalas" kemenangan taktik
Ferguson yang sepanjang 56 menit berhasil mengantisipasi taktik
Mourinho.
The Special One menjawab kartu merah Nani dengan
reaksi yang tepat: memasukkan Luka Modric menggantikan Arvalo Arbeloa.
Pilihan memasukkan Modric ini, dan bukan memasukkan penyerang tambahan
lewat Benzema, terbukti mematikan.

Dengan
masuknya Modric, maka Madrid bermain hanya dengan 3 bek --sesuatu yang
disarankan del Bosque sebelumnya. Kehadiran Modric ini membuat Madrid
praktis punya 3 pemain yang punya kemampuan mengontrol permainan di
final third. Selain Modric, di lapangan Madrid juga punya Kaka di kiri dan Oezil di kanan.
Di
sisi lain, United terpaksa menggeser Welbeck ke sisi kiri menggantikan
posisi Nani. Ini membuat Alonso terbebas dari tekanan, sehingga Madrid
benar-benar sanggup mengobrak-abrik lini tengah United. 5 pemain tengah
Madrid [Oezil, Modric, Kaka, Khedira, Alonso] vs 4 pemain gelandang
United [Welbeck, Giggs, Carrick, Cleverley].
Ronaldo dan Higuain di DepanEfek
lain dari dominasi lini tengah Madrid ini adalah Ronaldo pun bisa lebih
konstan masuk ke dalam kotak penalti karena posisinya di kiri bisa
diisi oleh Kaka. Dia tak lagi terpaku di sisi kiri, tapi bisa lebih
sering berada di dalam kotak penalti.
Seiring naiknya posisi
Ronaldo, perubahan juga terjadi pada Higuain. Jika sebelumnya dia selalu
berada di dalam kotak penalti, posisinya agak digeser ke kanan,
terutama setelah Oezil ditarik keluar digantikan oleh Pepe.
Dalam
situasi inilah gol kedua lahir. Ronaldo yang sebelumnya kesulitan masuk
ke dalam kotak penalti, bisa dengan leluasa menyambut umpan umpan
silang dari sisi kanan pertahanan United. Siapa lagi kalau bukan Higuain
yang memberinya umpan matang.
Serangan dari Sayap yang Membentur LopezTertinggal
1-2, United harus mencetak 2 gol jika ingin lolos. Tak ada pilihan lain
bagi Ferguson selain memasukan pemain-pemain yang lebih agresif.
Dimulai oleh Rooney yang masuk menggantikan Cleverley, lalu Ashley Young
menggantikan Welbeck, dan terakhir Valencia menggantikan Rafael yang
cedera.
Menarik memperhatikan bagaimana United tetap berhasil
memberikan tekanan berbahaya pada Madrid walau bermain dengan 10 pemain.
Tidak heran jika mayoritas peluang itu berasal dari sayap, sesuatu yang
memang diharapkan dan direncanakan oleh Ferguson. Sundulan
on target Welbeck di menit 73 berasal dari crossing Evra. Tembakan dari dalam kotak penalti dari Welbeck pada menit 80 berasal dari
crossing Rafael. Sundulan
on target Carrick di menit 83 berasal dari
crossing Giggs. Terakhir sundulan on target Vidic di menit 92 juga berasal dari
crossing Giggs.
Hampir
semua percobaan mencetak gol itu digagalkan oleh kegemilangan Diego
Lopez, pengganti Iker Casillas yang masih belum fit. Jika di
leg 1
De Gea mempertunjukkan aksi-aksi akrobatik guna mengamankan gawang
United, kali ini Lopez yang mencuri perhatian. Dan berkat dia pula
Madrid hanya kebobolan 1 gol, saat United sebenarnya berpeluang untuk
mencetak setidaknya 3 gol.